Kau...
Aku tak mengerti
Maksud dan tujuan
Bagaimana tuk jelaskan
Bagiku sekedar teman
Kamis, 26 Agustus 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
SUTRADARA
Malam ini, aku tertawa. Menggila. Dia mulai lagi. Haha... Semudah itukah, Pak?
Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.
Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.
Senin, 23 Agustus 2010
PERIH
Aku ingin menulis. Entah apa yang ingin aku tulis. Yang pasti, aku hanya ingin menulis. Entah beribu kata yang tak bermakna. Entah rangkaian huruf yang tak memiliki arti. Aku hanya menyebut ini perih. Perih? Ya, perih. Malam ini. Aku merasakan kesendirian lagi. Meski kenyataannya aku tak sendiri. Oh, Tidak. Aku salah. Ya, aku tak sendiri. Maaf, Tuhan. Aku khilaf.
Bagaimana tidak? Karena sebaris kata-kata, bisa terangkai kata perih. Perih? Perih apa? Maaf, aku pun tak mampu mendeskripsikannya. Ini hanya sebuah rasa. Mungkin juga hanya sementara. Semoga hanya sementara. Pasti hanya sementara. Aku yakin.
Memang aku tak pandai beragumentasi. Oh, bukan. Otakku yang terlalu mendikteku. Suara hatiku terlalu lirih, tak mampu kudengar. Hingga ia pun mendapatkan rasa. Ya, hatiku merasa perih. Kawan, salahkah semua ini? Haruskah aku lari? Jika tidak, untuk apa aku tak berlari? Entahlah. Apakah aku terlalu lemah untuk melakukannya atau terlalu kuat untuk tidak melakukannya? Apakah ada beda diantaranya? Tidak. Ini perih. Tetap sebuah perih. Lalu, akankah aku merasakan galau itu kembali? Aku bodoh jika dapat merasakannya. Biarlah. Biar. Aku memang bodoh. Karena ego dan idealisme? Ya. Dramatis dan paranoid.
Damai? Kedamaian? Kedamaian bukan alasan. Hanya kamuflase atas kepengecutanmu. Ketidakmampuanmu dan ketidakmampuanku.
Kata-kata itu, mampu menusukku. Hingga terasa perih. Aku tak dapat berpikir, kawan. Hanya perih, menurutku. Ya, perih. Perih dan galau.
Sesaat kemudian, aku tertawa. Haha, aku membual. Dramatis. Semua ini tak akan ada lagi esok hari. Aku berharap. Semoga. Pasti.
Minggu, 27 Juni 2010
Musnah
Seribu jejak kaki peduli
Seakan tak mengindahkan arti logika
Kesetiakawanan kini jadi fantasi
Terhapus oleh satu kata
“Cinta”
Seakan tak mengindahkan arti logika
Kesetiakawanan kini jadi fantasi
Terhapus oleh satu kata
“Cinta”
Sahabat Yang Hilang
Ingin kulemparkan sebongkah batu
Tepat di kepala dan ulu hatimu
Agar otakmu mencair
Tak membeku seperti es
Tak membatu seperti patung
Agar hatimu tak lagi buta
Tak lagi tuli, tak lagi bisu, peka, merasa
Atau
Agar kau mati saja
Dan semuanya akan berakhir
Tepat di kepala dan ulu hatimu
Agar otakmu mencair
Tak membeku seperti es
Tak membatu seperti patung
Agar hatimu tak lagi buta
Tak lagi tuli, tak lagi bisu, peka, merasa
Atau
Agar kau mati saja
Dan semuanya akan berakhir
Jumat, 25 Juni 2010
TTM+ (Tuek-Tuek Matre+Mayak)
Aku membuka mataku perlahan, meskipun agak enggan karena udara pagi ini sangat dingin aku rasakan. Aku raih Hape yang ada disampingku. Kulihat angka 05:33 di layar monochromenya. Wah... masih pagi, kataku dalam hati. Tampak pula sebuah icon amplop dengan angka 1 disampingnya yang menandakan bahwa ada 1 SMS masuk. Pasti dari chayankku yang semalem ketiduran. Lantas aku buka locked keypad Hapeku dan aku baca, ternyata benar. Mmmm... ntar ajah deh balesnya, kataku dalam hati. Kuletakkan kembali Hape jadul yang bermerk Nokia dengan type 1200 tersebut disampingku. Kutarik kembali selimutku (Jiah...!), berlindung dari dinginnya pagi ini. Mataku masih merem melek sambil bergumam dalam hati, bangun, enggak, bangun, enggak... (Hehe...). Dengan sedikit terpaksa akupun bangun dari tempat tidurku, mengingat ada setumpuk piring kotor di dapur yang setia menungguku untuk memandikannya.
Langganan:
Postingan (Atom)