Laman

Tampilkan postingan dengan label Teriakan Hati dan Pikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teriakan Hati dan Pikiran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 September 2011

Kecewa

Aku tau, sebenarnya ini salah paham.
Asal kamu tau, aku bisa saja menuruti kemauanmu. Gampang banget. Bukan hal yang sulit buatku. Meninggalkan kebiasaanku bersama mereka, benar2 hal yang mudah buatku.

Tapi, aku hanya ingin tau apakah kamu udah berubah, atau masih sama seperti dulu. Kamu yang picik, gak bisa berpikir panjang, kamu yang plin plan, gak konsisten, kamu yang hanya ingat kepadaku saat kamu merasa sayang aku dan lupa -sama sekali- dengan rasa sayangmu kepadaku saat aku tak mengenakkan hatimu.
Aku hanya ingin tau arti dari kata-kata janjimu kepadaku. Nyatakah? Atau semua kata manismu itu hanya bentuk apresiasi dari kekhilafanmu? Yang lupa dan hilang begitu saja saat kekhilafan itu mereda?

"Aku ingin. Tapi tak bisa. Dan tak mungkin."
Aku ingin terus bersamamu, menjalani hidupku denganmu, tapi aku tak bisa dan tak mungkin, jika melihatmu seperti ini. Aku kecewa. Dimana kata2 gombalmu saat kau ingin ku kembali padamu?
Air mata ini bukan karena kau meninggalkanku sekarang. Tapi untuk kebodohanku, telah memberikan 1 lagi kesempatan -yang kau mohon- kepadamu untuk menyakitiku lagi.

Aku jadi tak mengerti lagi apa itu cinta. Mungkin cinta bukan rasa yang tepat untuk menggambarkan dirimu terhadapku.

Untuk apa kesempatan itu kau minta jika hanya akan kau sia-siakan? Huff.... Aku genggam erat kesempatan ini. Rasanya tak mungkin lagi, tapi selalu hanya untuk saat ini. Payah!

Jumat, 05 November 2010

Hening

Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan apa yang kurasakan sekarang. Sedih? Tidak. Lebih dari itu. Hancur? Mungkin. Tapi aku ingin ada yang lebih hiperbolis. Aku ingin ada kata yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Aku ingin menangis, sejadi-jadinya. Aku ingin berlari, sekencang-kencangnya. Aku ingin berteriak, sekeras-kerasnya.
Sebuah ironi. Sungguh ironis keadaan ini. Sungguh sakit batin ini. Sungguh hancur hati ini. Secuek-cueknya aku, tak pernah sekalipun aku mengagungkan sosok lain selain dirinya.
Tak tertahankan. Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Aku beringsut, menjauh dari meja server, ke tempat client di no. 2. Yah, aku menumpahkan air mataku disana. Aku tak sanggup lagi menahannya. Sejuta pertanyaan bergumul di dalam otakku. Satu yang jelas, mengapa aku terlalu mencintainya?

Kalau kau tak lagi menginginkanku, baiklah aku terima. tapi tolong jangan kau mengungkit kesalahanku. Jangan kau membahas kekuranganku. Ini semua tentang ketidak mampuan kita. Tolong, mengertilah. Jangan kau jadikan aku sebagai tersangka utama hancurnya hubungan kita. Jika kau membenciku, baiklah aku terima. Tapi jangan kau sakiti aku seperti ini. Jika kau ingin meninggalkanku, baiklah aku sedia. Tapi jangan kau umbarkan seribu kata perpisahan yang pahit.

Sudah cukup semua penilaianmu terhadapku. Aku memang tidak sempurna. Aku memang tak bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan. Aku tahu bukan aku yang bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan, tapi tolong, tak perlu kau katakan semua itu. Apa kamu tidak tahu kalau itu menyakitiku??!!

Kamis, 04 November 2010

Gunjrung

Hehehe... Lucu. (Eh, apaan nih, dateng2 koq bilang lucu) Baru aja nih, aku kan nge-refresh email yg dari tadi emank udah logged in. Eh, ada 1 email masuk. Pas aku baca subjeknya "Aji Kurniawanto is..." langsung deh mataku melotot sambil senyum-senyum. nggak taunya pas aku lanjutin baca ternyata "... now following you on Twitter." Jiah...!! Njeglek langsung deh aku... =="
Gimana enggak? Wong emank tadi aku yang buka Twitternya dia en aku following Twitter aku. Jiaelah.... Kasian deh gw... :D

Jealous?

Yah, begitulah. Paling tidak itulah yang aku rasakan sekarang. Hufft... Aq sendiri nggak tau harus apa. Mungkin dengan menulis, aku bisa sedikit merasa lega. Toh mau curhat juga nggak tau harus curhat ke siapa. Jadinya tadi sempet survey aja di Yahoo! Answer. :) Trus akhirnya kepikiran deh buat nulis lagi di blog.

Selasa, 24 Agustus 2010

SUTRADARA

Malam ini, aku tertawa. Menggila. Dia mulai lagi. Haha... Semudah itukah, Pak?

Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.

Senin, 23 Agustus 2010

PERIH

Aku ingin menulis. Entah apa yang ingin aku tulis. Yang pasti, aku hanya ingin menulis. Entah beribu kata yang tak bermakna. Entah rangkaian huruf yang tak memiliki arti. Aku hanya menyebut ini perih. Perih? Ya, perih. Malam ini. Aku merasakan kesendirian lagi. Meski kenyataannya aku tak sendiri. Oh, Tidak. Aku salah. Ya, aku tak sendiri. Maaf, Tuhan. Aku khilaf.

Bagaimana tidak? Karena sebaris kata-kata, bisa terangkai kata perih. Perih? Perih apa? Maaf, aku pun tak mampu mendeskripsikannya. Ini hanya sebuah rasa. Mungkin juga hanya sementara. Semoga hanya sementara. Pasti hanya sementara. Aku yakin.
Memang aku tak pandai beragumentasi. Oh, bukan. Otakku yang terlalu mendikteku. Suara hatiku terlalu lirih, tak mampu kudengar. Hingga ia pun mendapatkan rasa. Ya, hatiku merasa perih. Kawan, salahkah semua ini? Haruskah aku lari? Jika tidak, untuk apa aku tak berlari? Entahlah. Apakah aku terlalu lemah untuk melakukannya atau terlalu kuat untuk tidak melakukannya? Apakah ada beda diantaranya? Tidak. Ini perih. Tetap sebuah perih. Lalu, akankah aku merasakan galau itu kembali? Aku bodoh jika dapat merasakannya. Biarlah. Biar. Aku memang bodoh. Karena ego dan idealisme? Ya. Dramatis dan paranoid.

Damai? Kedamaian? Kedamaian bukan alasan. Hanya kamuflase atas kepengecutanmu. Ketidakmampuanmu dan ketidakmampuanku.
Kata-kata itu, mampu menusukku. Hingga terasa perih. Aku tak dapat berpikir, kawan. Hanya perih, menurutku. Ya, perih. Perih dan galau.
Sesaat kemudian, aku tertawa. Haha, aku membual. Dramatis. Semua ini tak akan ada lagi esok hari. Aku berharap. Semoga. Pasti.

Jumat, 25 Juni 2010

TTM+ (Tuek-Tuek Matre+Mayak)

Aku membuka mataku perlahan, meskipun agak enggan karena udara pagi ini sangat dingin aku rasakan. Aku raih Hape yang ada disampingku. Kulihat angka 05:33 di layar monochromenya. Wah... masih pagi, kataku dalam hati. Tampak pula sebuah icon amplop dengan angka 1 disampingnya yang menandakan bahwa ada 1 SMS masuk. Pasti dari chayankku yang semalem ketiduran. Lantas aku buka locked keypad Hapeku dan aku baca, ternyata benar. Mmmm... ntar ajah deh balesnya, kataku dalam hati. Kuletakkan kembali Hape jadul yang bermerk Nokia dengan type 1200 tersebut disampingku. Kutarik kembali selimutku (Jiah...!), berlindung dari dinginnya pagi ini. Mataku masih merem melek sambil bergumam dalam hati, bangun, enggak, bangun, enggak... (Hehe...). Dengan sedikit terpaksa akupun bangun dari tempat tidurku, mengingat ada setumpuk piring kotor di dapur yang setia menungguku untuk memandikannya.

Sabtu, 29 Mei 2010

Aku Rindu Padamu, Tuhanku

Disclaimer:
  • Berikut ini adalah cerita nyata, curahan hati seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya.
  • Persamaan nama, tokoh, tempat dan kejadian mungkin memang disengaja, jadi maap yeah... (bentar lagi mow kiamat lho. Harus maafin. *maksa*)
  • Dilarang meng-copas tanpa ijin penulis. (Boleh meng-copy tanpa mem-paste)
  • Pembajakan dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Kamis, 27 Mei 2010

Pilih sahabat atau pacar? = Pertanyaan Blo'on

Pastinya, kalian2 sering banget kan denger pertanyaan kayak diatas yang dilontarkan oleh sebagian cewek yang sedang dilema dengan kisah asmaranya. Sumprit, blo'on banget deh menurut ima tuh pertanyaan. SmileyCentral.com
Kenapa? Chaphchuzzz....