Laman

Selasa, 24 Agustus 2010

SUTRADARA

Malam ini, aku tertawa. Menggila. Dia mulai lagi. Haha... Semudah itukah, Pak?

Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.

Setelah itu pun dia mengubah arah cerita. Adegan kebakaran. Disebuah rumah tua besar yang mirip kastil itu kita akan beradegan. Hmm... Kuno dan aku suka aroma mistiknya. Aku menyalakan sebuah pemantik api yang tergeletak di meja. Lagi-lagi, dia menjerit. Ya, dia. Sutradaraku. Dia bilang api itu bisa membakarnya, membunuhnya. Aku menyeringai,
"Ah, tidak mungkin, Pak! Lihatlah. Ini tidak berbahaya".
 crek... crek... sekali lagi aku menyalakan pemantik api berbahan bensol itu dihadapannya.
"Kamu tahu aku tidak suka. Kamu tahu aku benci melihat api-api kecil itu. Sangat menggangguku. Kenapa masih saja kamu menyalakannya?"
katanya. Sambil menutupi mukanya dengan naskah dialog yang sedari tadi dipegangnya. Aku menyeringai lagi. Crek... crek... Kunyalakan lagi pemantik api yang sesaat tadi kumatikan karena panasnya menyentuh jari-jariku.
"Karena aku ingin membuktikan kepada Bapak, api-api kecil ini tidak berbahaya"
aku menyodorkan pemantik api kecil itu selurus dengan matanya.
"Lihatlah, ini tidak akan membakar Bapak. Apalagi membunuh Bapak. Tidak percayakah Bapak kepadaku? Aku yang memegangnya dan aku tidak akan membakar apapun dengan ini".
kataku menjelaskan. Namun tak didengarkan, tak digubrisnya. Uh, pengecut. Kataku lagi, didalam hati.

Seusai itu, tak ada lagi kata syuting. Terbengkalai. Sampai tadi malam, dia meneleponku. Dihentikannya semua kegiatan syuting selama ini. Diberhentikannya pula aku sebagai aktris dalam ceritanya. Aku tertawa. Sebegitu takutnyakah bapak akan piranha-piranha kecil di laut? Takutkah bapak akan api-api kecil pemantik? Oh, bapak. Sebegitunyakah bapak tak pernah membiarkan diri bapak merasakan gigitan piranha kecil atau hangatnya api-api kecil pemantik? Sebegitu pengecutnyakah bapak? Sebegitu lemahkah? Bagaimana anda akan mendapatkan gambar yang indah di laut tanpa ikan-ikan kecil itu? Tanpa dingin dan sepoinya angin laut yang hembusannya menusuk tulang? Bagaimana anda akan mendapatkan kepuasan dalam adegan kebakaran tanpa sambaran api-api itu? Tanpa kobaran-kobaran yang panasnya dapat melelehkan otak? Sebaiknya anda belajar dulu sebagai pemeran figuran sebelum menjadi seorang sutradara. Haha. kontan saja dia tidak terima.
"Saya minta maaf, Pak. Baiklah. Silahkan Bapak mencari aktris lain pengganti saya. Yang lebih mampu mengindahkan cerita-cerita naskah Bapak. Maaf jika saya kurang bisa diatur".
"Baiklah kalau begitu. Maaf jika saya tidak dapat menepati janji saya, untuk membawamu syuting di negeri impianmu. Salju. Dan terima kasih untuk semuanya selama ini."
Hahaha... Aku tertawa. Sebegitu mudahnya kau melakukannya, Pak.
Aku melirik kedalam sebuah cooler. Ice cream vanila. Aku mengambilnya, aku buka, lantas aku mencicipinya. Sedang anganku terbang, ke suatu masa, beberapa masa yang lalu. Saat itu cuaca sedang panas. Kita sedang bergelut dalam sebuah pembicaraan di telepon.
"Cuaca panas seperti ini, ingin sekali saya menikmati ice cream. Bagaimana dengan ice cream vanila yang masih saja kau simpan didalam cooler-mu itu?"
"Yah, sepertinya begitu. Aku pun ingin menikmatinya. Tapi itu ice cream vanila yang sarat akan kelezatan dan kelembutan terakhir yang ibu buatkan untukku. Takkan ada lagi."
"Ah, toh sebentar lagi saya akan membawamu ke negeri impianmu. Salju. Disana kau tak akan memerlukannya lagi. Bagaimana kalau kita menghabiskan ice cream vanilamu berdua sekarang?"
 "Tidak, Pak. Ya, kita akan menikmatinya berdua. Tapi tidak sekarang. Bagaimana kalau di Bandara, saat kita akan berangkat menuju negeri impianku?"
"Hmmm... Baiklah".
Hufff... Aku menghela nafas panjang. Bagaimana jadinya jika saat itu kita menghabiskannya berdua? Saat dia menyatakan diri tak mampu lagi membawaku ke negeri impianku, akan dibiarkannya kah aku mati kepanasan di Indonesiaku ini? Tanpa ice cream vanila buatan ibuku.

Aku merenung. Yah, silahkan saja Bapak mencari aktris lain penggantiku. Selama itu, aku tidak bernafsu untuk mencari sutradara lain atau aku sendiri saja yang menyutradarai ceritaku. Didalam kebencianku akan kepengecutan dan kelemahanmu, aku tetap menanti janjimu, untuk membawaku ke negeri impianku. Salju. Dan aku pun akan menepati janjiku. Menikmati ice cream vanila buatan ibuku, berdua bersamamu, di Bandara. Cerita yang akan mengawali perjalanan kita syuting di Negeri impianku. Salju.
Atau akan kubuang semua penantian ini. Saat kau telah menemukan aktris lain untuk ceritamu. Yang engkau bawa ke negeri impianku. Yah, salju. Namun tak akan ada lagi cerita kau menikmati ice cream vanila ini berdua bersamaku, di Bandara.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nyokk.... Mari bercececuet below...: