Siang itu aku pulang sekolah. Jarak antara sekolahku dan rumah nenek sekitar 2,5 km. Panas yang sangat menyengat membuat aku mengayuh sepeda dengan bermalas-malasan.
Hmm... Kurang setengah km lagi. Tapi panas banget niy. Keluhku dalam hati. Panas yang sangat menyengat ditambah dengan jalanan yang berdebu (cz belum beraspal gitu loh) membuat mataku nggak bisa melihat dengan baik. Hal itu membuat aku berkeinginan untuk menutup mata saja alias merem. Ah, toh jalanannya juga lurus aja kok. Pikirku.
Akhirnya aku menutup mataku dengan tetap mengayuh sepeda perlahan-lahan. Tak lama kemudian aku merasa seperti berada di jalan yang menurun. Ha? Perasaan di jalan ini gak ada turunan. Jalannya datar-datar saja. Pikirku. Lalu perlahan-lahan aku mulai membuka mataku. Di antara penglihatan yang remang-remang akibat menutup mata, aku mendapati diriku sedang berada di selokan. Astaga! Pekikku. Aku segera memeriksa sekelilingku. Menoleh ke kiri dan ke kanan. Hhhh... Untung... Ternyata di sekitarku gak ada yang namanya manusia. Sama sekali. Aku pun turun dari sepeda dan segera menariknya kembali ke jalan. Aku kayuh dengan semangat. Pengen rasanya cepat-cepat sampai di rumah nenek dan menceritakan kejadian ini dengan orang-orang di rumah.

Mungkin pada bingung ya, kok bisa sih nggak kerasa kalo masuk selokan?
Sebenernya itu emang berfungsi sebagai selokan. Tapi karena kemarau, maka selokan itu menjadi dangkal. Dan kedalamannya hanya sekitar 1,5 jengkal. Makanya aku nggak sampai jatuh. Cuma kalo sampai ada yang ngeliat, pasti aneh banget duonk. Coba aja kalo ada yang tiba-tiba nyeletuk, "Ngapain bersepeda di selokan? Emang nggak ngeliat ya neng jalan selebar itu?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nyokk.... Mari bercececuet below...: