Waktu itu aku masih kelas X. Aku mengikuti perkemahan dalam rangka HUT Pramuka di Lapangan Desa Randegan.

Pada malam kedua aku berkemah, murid-murid lain udah pada tidur semua karena kecapekan. Tapi lain halnya denganku, temanku Riza dan kakak kelasku yang berinisial M. S. Yah, namanya juga bukan bocah biasa (Hehe...) padahal kita bertigalah yang paling banyak mengikuti berbagai macam perlombaan. Bukannya tidur, kita bertiga malah bermain poker, kartu remi.
Di sela-sela permainan kita, entah aku atau Riza (Lupa. Abiznya udah lama banget sih) melihat teman kami, A. S. tidur dengan mulut menganga. Ting!! Alhasil ide jahil pun muncul di benak kita berdua. (Khekhekhe... Devil Laugh Mode : ON)
Tanpa dikomando, kita pun mengambil garam yang terletak di tenda bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur. Aku menjumput sedikit garam, Lalu aku coba memasukkannya ke dalam mulut si A. S. Hmmm... tapi koq agak susah ya? Riza pun mencoba tapi sama susahnya memasukkan garam dengan tepat n biar gak mbleber kemana-mana. Akhirnya muncul sebuah ide, kita mengambil secarik kertas lalu menggulungnya hingga membentuk sebuah corong. Nnaaahh....!! Bisik kita sambil cekikikan.
Tanpa dikomando, kita pun mengambil garam yang terletak di tenda bagian belakang yang berfungsi sebagai dapur. Aku menjumput sedikit garam, Lalu aku coba memasukkannya ke dalam mulut si A. S. Hmmm... tapi koq agak susah ya? Riza pun mencoba tapi sama susahnya memasukkan garam dengan tepat n biar gak mbleber kemana-mana. Akhirnya muncul sebuah ide, kita mengambil secarik kertas lalu menggulungnya hingga membentuk sebuah corong. Nnaaahh....!! Bisik kita sambil cekikikan.Aku pun memegangi corong kertas tsb dan Riza mulai menuang garamnya. Upz...!! Wadow,, kebanyakan!! Teriak kita setengah berbisik. Jadilah tu garam menggunung di mulut si A. S. Kita pun segera menyingkir dari samping tubuh A. S. dan berpura-pura tidur.
Tak begitu lama kemudian si A. S. bereaksi. Dengan setengah sadar setengah tidur dia berteriak-teriak sembari Mengusap-usap mulutnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya secara bergantian. "Ih, apaan neh?! Bweeh.. Bweh... Ih, apa sih?! Bweh..." Ckikikkikiki... Kita pun cekikikan. Tak ketinggalan juga kakak kelas kita, M. S. 
Keesokan harinya, setelah membongkar tenda dan mengumpulkan barang-barang, kita berkumpul di tepi jalan. Sambil menunggu truk jemputan, aku pun nyeletuk,
"Eh, semalem Lu kenapa sih teriak-teriak? Berisik lagi." kataku pada si A. S. dengan senyum jahil. Tak ketinggalan begitu juga dengan si Riza.
"Woi... Lu ngapain sih?!"
"Oooohhh...!! Jadi kalian yach yang ngerjain gw semalem?? Gila... Eh, apaan sich? Garem yach?! Pantesan kok asin-asin gimana...?! Iyach yach?!"
Hwahahahahahahahaahahahaha.....
Kita pun tertawa meledak-ledak. Bukan hanya karena inget-inget kejadian semalem, tapi mendengar si A. S. bicara dengan gaya bicaranya yang khas banget. Lucu, culun n lugu.Hhhhhh.... Aku masih sering tertawa sendiri kala mengingat-ingat kejadian gokill itu. Meskipun begitu, si M. S. tuh gak pernah marah. Anaknya memang begitu. Gak pernah marah ataupun sedih. Makanya dia seringkali jadi sasaran empuk keisengan dan kejahilanku. Hehe... Gak nyangka sekarang dia udah Married n udah mau punya anak. (^_^)v
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nyokk.... Mari bercececuet below...: