Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan apa yang kurasakan sekarang. Sedih? Tidak. Lebih dari itu. Hancur? Mungkin. Tapi aku ingin ada yang lebih hiperbolis. Aku ingin ada kata yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Aku ingin menangis, sejadi-jadinya. Aku ingin berlari, sekencang-kencangnya. Aku ingin berteriak, sekeras-kerasnya.
Sebuah ironi. Sungguh ironis keadaan ini. Sungguh sakit batin ini. Sungguh hancur hati ini. Secuek-cueknya aku, tak pernah sekalipun aku mengagungkan sosok lain selain dirinya.
Tak tertahankan. Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Aku beringsut, menjauh dari meja server, ke tempat client di no. 2. Yah, aku menumpahkan air mataku disana. Aku tak sanggup lagi menahannya. Sejuta pertanyaan bergumul di dalam otakku. Satu yang jelas, mengapa aku terlalu mencintainya?
Kalau kau tak lagi menginginkanku, baiklah aku terima. tapi tolong jangan kau mengungkit kesalahanku. Jangan kau membahas kekuranganku. Ini semua tentang ketidak mampuan kita. Tolong, mengertilah. Jangan kau jadikan aku sebagai tersangka utama hancurnya hubungan kita. Jika kau membenciku, baiklah aku terima. Tapi jangan kau sakiti aku seperti ini. Jika kau ingin meninggalkanku, baiklah aku sedia. Tapi jangan kau umbarkan seribu kata perpisahan yang pahit.
Sudah cukup semua penilaianmu terhadapku. Aku memang tidak sempurna. Aku memang tak bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan. Aku tahu bukan aku yang bisa menjadi seperti apa yang kau inginkan, tapi tolong, tak perlu kau katakan semua itu. Apa kamu tidak tahu kalau itu menyakitiku??!!
Jumat, 05 November 2010
Kamis, 04 November 2010
Gunjrung
Hehehe... Lucu. (Eh, apaan nih, dateng2 koq bilang lucu) Baru aja nih, aku kan nge-refresh email yg dari tadi emank udah logged in. Eh, ada 1 email masuk. Pas aku baca subjeknya "Aji Kurniawanto is..." langsung deh mataku melotot sambil senyum-senyum. nggak taunya pas aku lanjutin baca ternyata "... now following you on Twitter." Jiah...!! Njeglek langsung deh aku... =="
Gimana enggak? Wong emank tadi aku yang buka Twitternya dia en aku following Twitter aku. Jiaelah.... Kasian deh gw... :D
Gimana enggak? Wong emank tadi aku yang buka Twitternya dia en aku following Twitter aku. Jiaelah.... Kasian deh gw... :D
Jealous?
Yah, begitulah. Paling tidak itulah yang aku rasakan sekarang. Hufft... Aq sendiri nggak tau harus apa. Mungkin dengan menulis, aku bisa sedikit merasa lega. Toh mau curhat juga nggak tau harus curhat ke siapa. Jadinya tadi sempet survey aja di Yahoo! Answer. :) Trus akhirnya kepikiran deh buat nulis lagi di blog.
Rabu, 01 September 2010
Kamis, 26 Agustus 2010
Selasa, 24 Agustus 2010
SUTRADARA
Malam ini, aku tertawa. Menggila. Dia mulai lagi. Haha... Semudah itukah, Pak?
Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.
Hari-hari yang lalu kita syuting di sebuah pantai. Laut yang indah. Aku suka sekali pemandangannya. Aromanya, makhluk hidup didalamnya. Aku bermain dengan ikan-ikan lucu nan menarik itu, piranha. Tersenyum, menyeringai, bersenda gurau. Dia menjerit. Ya, Sutradaraku. Dia bilang dia tidak suka melihat ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu bisa membunuhnya. Dia membenci mereka. huh, phobia mungkin. Gerutuku dalam hati. Ah, pengecut. Umpatku.
Senin, 23 Agustus 2010
PERIH
Aku ingin menulis. Entah apa yang ingin aku tulis. Yang pasti, aku hanya ingin menulis. Entah beribu kata yang tak bermakna. Entah rangkaian huruf yang tak memiliki arti. Aku hanya menyebut ini perih. Perih? Ya, perih. Malam ini. Aku merasakan kesendirian lagi. Meski kenyataannya aku tak sendiri. Oh, Tidak. Aku salah. Ya, aku tak sendiri. Maaf, Tuhan. Aku khilaf.
Bagaimana tidak? Karena sebaris kata-kata, bisa terangkai kata perih. Perih? Perih apa? Maaf, aku pun tak mampu mendeskripsikannya. Ini hanya sebuah rasa. Mungkin juga hanya sementara. Semoga hanya sementara. Pasti hanya sementara. Aku yakin.
Memang aku tak pandai beragumentasi. Oh, bukan. Otakku yang terlalu mendikteku. Suara hatiku terlalu lirih, tak mampu kudengar. Hingga ia pun mendapatkan rasa. Ya, hatiku merasa perih. Kawan, salahkah semua ini? Haruskah aku lari? Jika tidak, untuk apa aku tak berlari? Entahlah. Apakah aku terlalu lemah untuk melakukannya atau terlalu kuat untuk tidak melakukannya? Apakah ada beda diantaranya? Tidak. Ini perih. Tetap sebuah perih. Lalu, akankah aku merasakan galau itu kembali? Aku bodoh jika dapat merasakannya. Biarlah. Biar. Aku memang bodoh. Karena ego dan idealisme? Ya. Dramatis dan paranoid.
Damai? Kedamaian? Kedamaian bukan alasan. Hanya kamuflase atas kepengecutanmu. Ketidakmampuanmu dan ketidakmampuanku.
Kata-kata itu, mampu menusukku. Hingga terasa perih. Aku tak dapat berpikir, kawan. Hanya perih, menurutku. Ya, perih. Perih dan galau.
Sesaat kemudian, aku tertawa. Haha, aku membual. Dramatis. Semua ini tak akan ada lagi esok hari. Aku berharap. Semoga. Pasti.
Langganan:
Postingan (Atom)
